Perbanyak “Skill” yuk…

Perbanyak Skill yuk… itu ajakan yang ingin saya sampaikan. Sekedar berbagi apa yang saja pelajari dari berbagai buku, bahwa manusia itu heterogen di dalam hidupnya. Khususnya manusia Indonesia. Maka dari itu lah yang menjadikannya unik seuniknya karena manusia Indonesia tidak pernah benar-benar paham apa yang mereka geluti saat ini bukan yang mereka inginkan. (secara mendalam dari minat dan bakat). loh?

Sebagai ilustrasi diatas adalah gambar sebuah buku yang mengajak dan mengajarkan life skill dimana kehidupan perlu untuk dipelajari tekhnik-tekhnik yang bermanfaat untuk menunjang sebuah pekerjaan dan karier mereka. Eh? pekerjaan dan karier adalah dua hal yang berbeda. Mungkin akan saya jelaskan lain waktu. Perlu diingat juga, saya tidak akan mengajarkan materi yang ada di dalam buku tersebut, karena ini murni motivasi analisis dari saya sendiri.

Kali ini, dilema dalam kehidupan profesional mengganggu saya. Kenapa? Lebaran kemaren, cukup membuat saya gelisah. Setelah tidak bisa berkumpul bersama orang tua di kampung halaman, saya sendiri harus mewakili kelurga dalam silaturahmi keluarga besar orang tua di kota Solo. Cukup gelisah. Kenapa? Mudah saja, bagi saya yang menginjak 2 tahun kuliah, bukanlah hal yang mudah untuk menjelaskan arah pekerjaan yang bisa saya tempuh nanti setelah lulus kuliah. Maklum, jurusan yang saya ambil tidaklah sepopuler yang ada saat ini. Lalu seorang saudara bapak pun bertanya, “Hanif, nanti kalau lulus, arah pekerjaan yang diambil kearah mana ya? Guru? Atau Dosen?” sebuah pertanyaan yang skeptis, yah, saya maklumi karena mereka tidaklah menjalani apa yang saja jalani.

Pertanyaan itu pun saya jelaskan dengan rincian yang cukup sederhana. Setidaknya, mau jadi apa kita nanti, itu adalah perjalanan waktu. Maka dari itu, pentingnya menambah “ilmu atau skill” guna menunjang pekerjaan dan karier adalah keharusan. Jadi cukup saya jawab, “Itu adalah pilihan sempitnya, kalau mau luas, saya pun bisa jadi pengusaha, atau bekerja di industri perminyakan atau pertambangan, tidak ada batasan soal itu bukan? asalkan skill yang saya tempa saat kuliah bermanfaat, bisa saja jadi seorang penulis.” (maaf, itu bukan jawaban sebenarnya, tapi sedikit saya rekayasa yang intinya sama.) Namun, sepertinya mereka tetap memandang sebelah mata soal jawaban yang saya berikan, lalu? Yah, itulah yang membuat saya cemas. Dan kembali membaca buku-buku motivasi soal pengembangan diri, motivasi pekerjaan, dan sebagainya.

Nah, begitulah, sekedar fakta dilapangan, banyak kita temui, seorang lulusan psikologi menjadi manager marketing sebuah perusahaan swasta, atau seorang lulusan sastra inggris menjadi pegawai bank. Itu semua tidak salah bukan? karena manusia Indonesia unik dalam mengambil sikap untuk masa depannya. Walaupun selalu berlandaskan uang sebagai tujuan. Tapi bukan itu yang kita permasalahkan sekarang. Bagaimana mempersiapkan diri untuk bisa survive dalam dunia pekerjaan.

Pertama yang saya pelajari, carilah minat anda. Sebuah buku yang saya baca mengatakan, “minat adalah apa yang anda cintai untuk dilakukan, walaupun anda tidak mahir melakukannya.” Secara cerdas dapat diberikan contoh demikian. Seorang konsultan keuangan sangat tertarik dengan dunia fotografi, lalu dia ingin minatnya tersebut menjadi hobi dan nantinya bisa menjadi penghasilan sampingan yang cukup menjanjikan. Apakah dirinya akan membiarkan saja terus mengurung minat dan bakatnya dalam pekerjaannya sekarang? Itu cukup menyakitkan secara mental saya rasa. Jadi mencoba secara bijak minat barunya tersebut pelan-pelan. Seperti berkenalan dengan seorang fotografer, banyak bertanya seluk beluk fotografi, lalu membeli seperangkat kamera, bereksperimen, dan tentu saja tetap menjalankan pekerjaannya sebagai konsultan keuangan.

Contoh diatas adalah bukti bahwa skill yang kita miliki saat ini masih bisa berkembang kearah yang berbeda dengan yang kita jalani saat ini. Sebagai mahasiswa fisika murni, saya sendiri ingin berprofesi sebagai penulis. Memang sulit menjanjikan kesuksesan di dalamnya. Tapi buah kesuksesan itu dimulai dari langkah-langkah kecil, dengan proses, dan dengan perencanaan. Lalu bagaimana perencaannya? Kalau saya sih, mumpung masih 2 tahun kuliah untuk lulus (semoga tidak molor, amin) berarti masih ada 2 tahun untuk terus mengasah kemampuan menulis. Saya tertarik menulis pada hal-hal motivasi, sehingga tulisan saya bisa bermanfaat bagi diri saya sendiri dan orang lain nantinya.

Lalu bagaimana dengan anda? Saya yakin anda punya minat yang jauh lebih hebat dari saya? Mungkin anda mahasiswa tekhnik yang lebih suka travelling ke alam bebas daripada menekuni bidang anda? Mungkin itu bisa menjadi jalan hidup anda nantinya. Dan yang lainnya. Bagaimana? Tertarik mencari minat dan bakat anda? Tidak ada kata terlambat bagi saya. Jadi bersemangatlah.

Iklan

Tentang Hanif Mahaldi

Mahasiswa di UGM Jogja Jurusan Fisika Mipa, masih terus belajar mencari arti kesuksesan dengan "passion" menulis, bercerita dengan tulisan, atau apapun yang benar-benar bisa menyenangkan dengan tulisan.
Pos ini dipublikasikan di Motivasi Analisis dan tag , , . Tandai permalink.

26 Balasan ke Perbanyak “Skill” yuk…

  1. Heru Purwanto berkata:

    sampai sekarang saya juga masih bingung mo jadi apa? enaknya jadi apa ya?:)
    kira-kira yang ga susah tapi menghasilkan uang yang banyak gtu. hehehe..

  2. bundadontworry berkata:

    Bunda setuju sekali, ketika kita menjadi seseorang dgn skill yg plus plus, tentunya akan sangat mudah memasuki lapangan pekerjaan apapun, terlebih lagi bila mampu menciptakan lapangan pekerjaan baru .
    mungkin salah satunya dgn belajar berbagai bahasa asing ya Hanif πŸ™‚
    salam

  3. JoO berkata:

    hehehe kebetulan… minat dan skil saya gag terlalu jauh dari apa yang saya pelajari di bangku kuliah… [itu sebuah kebetulan]
    Minat..? saya orang yang berminat untuk bisa mengerjakan ini-itu.
    skill? hehehe [No answer]
    btw kamu kuliah dijogja juga toh…. πŸ˜€ “met ngerjain tugas :-P”

  4. Ass….

    Pertanyaan seperti ini sering sekali menjadi momok ditengah masyarakat menjelang dewasa. Namun tidak kalah pentingnya ita dapat menjadi manusia yang multi fungsi dalam kehidupan ini. semakin banyak kita bermanfaat untuk orang lain, maka diri kita menjadi orang yang perlahan-lahan menjadi orang yang sukses.

    • Hanif Mahaldi berkata:

      maka dari itu, mungkin untuk postingan ke depan saya bahas lagi lebih jauh tentang hal ini, agar setidaknya banyak yang mengerti tentang bagaimana sebaiknya kita dapat mengambil sikap untuk perencanaan masa depan. Terima kasih sudah berkunjung, πŸ˜€

  5. budiarnaya berkata:

    Setuju banget, kemampuan lebih ditambah lebih yang lain akan membuat hidup lebih ringan asal diselaraskan dengan moral yang bijak, salam hangat dari Jembrana, Bali

  6. alamendah berkata:

    Setuju sekali, Mas. Dengan skil yang dipunyai menjadi modal yang besar untuk berdikari dan menjadi orang yang sukses

  7. Dean berkata:

    just focus with one skill, if it does… goes to next skill πŸ™‚

  8. warm berkata:

    yg penting, pelihara semangat dan tetep konsisten πŸ™‚

    inspiratif +1

  9. arifudin berkata:

    skill harus bisa kita kembangkan lebih baik, karena itu skil sangat penting πŸ™‚

  10. aldy berkata:

    Menambah skill menjadi sebuah keharusnya.
    Atau kita akan tertinggal jauh dibelakang.

  11. uvebana berkata:

    sangat inspiratif sob…. 2 jempol buat artikel ini πŸ™‚

  12. Fadly Muin berkata:

    saya bisa merasakan kegelisahaan itu mas. Pertanyaan skeptis? ya begitulah golongan kebanyakan orang kita.
    banyak pertanyaan seputar kerja,
    -Kerja dimana?
    -nanti kerja dimana?
    -baru pulang kerja yah? dan masih banyak lagi pertanyaan soal kerja.

    saya sependapat, jika dikatakan, bahwa kita butuh alat pembangun yang lebih berkualitas. skill tertentu memang perlu. dalam hal apapun juga, termasuk kecerdasan sosial.

    • Hanif Mahaldi berkata:

      Begitulah mas Fadly, saya perlu kecerdasan sosial, kecakapan bicara, agar menyampaikan pada mereka, yang selalu skeptis akan hidup untuk dapat terus membuka mata bahwa hidup mencari uang tak sekedar itu.

  13. Sang Pencerah berkata:

    mau sekali saya mengikuti ajakan ini, ketika skill kita bertambah maka 1 kemudahan sudah kita dapat

  14. Khalid Abdullah berkata:

    okey okey saya setuju dengan wacana bahwa kita harus menambahakan skill kehidupan kita, tapi ngomong….intinya mas mau jadi apa sih nih ??? mau tahu donk ???

    • Hanif Mahaldi berkata:

      saya ingin menjadi seorang penulis, walau belum bisa menerbitkan sebuah buku, hehehe… yah, karena lulusan kuliah adalah hak paten menjadi seorang calon ilmuwan, praktisi ilmiah, bukan tidak mungkin saya pun bisa berubah haluan menjadi seorang penulis. hehe.

  15. Khalid Abdullah berkata:

    saya ingin jadi pebisnis online…., yang terotomatisasi.

    life skill yang ingin saya dalami adalah bidang yang berhubungan dengna alam bawah sadar seperti Adi W Gunawan…

  16. Reza Saputra berkata:

    keterampilan menjadi modal utama untuk mencapai kesuksesan…

  17. joe berkata:

    semangat mari kita gali potensi diri untuk menjadi sukses…

  18. citromduro berkata:

    dengan banyak membaca pengetahuan semakin bertambah, kemampuan juga akan meningkat

    salam dari pamekasan madura

  19. citromduro berkata:

    πŸ˜€ πŸ˜€ tertangkap spam mas
    salam kenal dan sukses, terus belajar dan belajar

  20. kang ian berkata:

    wah benar sekali mas πŸ™‚
    kebanyakan dari kita selalu tidak selalu pas antara input dan outputnya..hehe banyak dari teman-teman saya bahkan saya sendiri yang pekerjaannya sekarang tidak pas dengan apa yang kami geluti dulu waktu pas sekolah atau kuliah πŸ˜€
    saya sangat setuju sekali dengan konsep memperbanyak skill ini karena sebenarnya pengetahuan akademik itu cuma sebagai formalitas saja..tetap kan yang di minta di dunia pekerjaan itu adalah skill, kemampuan dan pengalaman ^^
    makasih atas tulisannya πŸ™‚

  21. cahyo berkata:

    sebenarnya apapun bidang yang kita minati merupakan peluang untuk meraih apapun “impian” kita. Bila ada minat lalu tekuni dan jadilah ahli dalam bidang tersebut. Banyak belajar dan berlatih, semakin sering berlatih kita semakin terbiasa. Disinilah skill terbentuk, dan di dunia usaha skill lebih “laku” dari pada knowledge. Sukses mas Hanif.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s