Belajar itu Bertanya

Bertanya? Sudah berapa lamakah anda tidak bertanya? Semakin dewasa rasa keingintahuan itu lebih sering membuat kita memilih untuk mencari sendiri ilmu itu dari buku, seminar, internet dan sebagainya, tapi tanpa bertanya? Apakah bertanya sudah mengurangi porsi bertanya itu sendiri?

Dalam motivasi analisis kali ini saya akan membahas bahwasanya bertanya adalah hal lumrah yang harus dibudayakan kembali dengan lebih bijaksana. Terkadang permasalah muncul adalah feedback atau timbal balik dari apa yang kita tanyakan. Seorang siswa, dengan sangat ingin tahunya bertanya kepada gurunya, dengan ragu namun pasti dirinya bertanya apa yang ingin ditanyakan, namun pertanyaan itu dianggap konyol oleh guru dan teman-temannya. Sehingga dirinya ditertawakan. Inilah yang saya maksud dengan bijaknya menimpali pertanyaan seseorang. Karena hal tersebut dapat mematikan rasa ingin tahu bahkan mengurung perkembangan kreativitas seseorang. Lalu, jika hal itu sudah umum dilakukan, bagaimana? Apakah pertanyaan tak perlu lagi?

Pengalaman menarik ingin saya bagikan disini. Masuk gerbang perkuliahan dan dunianya, adalah sarana yang mewajibkan setidaknya mahasiswa untuk aktif bertanya. Namun, ternyata dosen tidak selalu sabar menghadapi pertanyaan itu. Bisa dikatakan bahwa, bertanya itu perlu yang memiliki nilai bobot tersendiri. Itulah alasan mengapa di bangku kuliah pun, pertanyaan jarang sekali dilontarkan. Tapi berbeda dengan teman saya yang satu ini. Dirinya adalah orang yang sering tampil bertanya di dalam kelas. Walaupun teman-teman dan saya pun tahu jika pertanyaan yang diajukannya adalah pertanyaan yang dasar, bisa dicari dibuku, dan terkesan konyol, namun dirinya tetap cuek dan terus memberikan pertanyaan. Setiap semester dia melakukan hal yang sama. Saya pun sadar akan dampak yang diberikannya untuk saya sendiri secara tidak langsung. Dari sekian banyak pertanyaan itu pun, ternyata banyak yang saya sendiri belum tentu sanggup menjawabnya jika saya berada di posisi dosen yang ditanya. Ini bukti bahwasanya bertanya adalah belajar dan belajar adalah bertanya menjadi sinkronisasi yang mutlak adanya.

Layaknya kehidupan ini, segan bertanya adalah tersesat. Ini perlu latihan tentunya, setidaknya melatih mental dengan cemoohan saat pertanyaan itu kita lontarkan pada seseorang. Sehingga kita sendiri menjadi lebih matang dalam menguasai sebuah ilmu. Bertanya juga dianggap eksklusif di kalangan bangsa barat hingga saat ini. Karena bagi mereka bertanya itu hal biasa namun mendapat tanggapan yang mereka inginkan atau jawaban yang memuaskan dari pertanyaan itu adalah hal yang mahal. Budaya ini yang seharusnya dan sepatutnya kita tiru. Seorang dosen bercerita tentang pengalamannya mengambil S3 di Eropa. Beliau sempat mendapatkan kesempatan menjadi asisten profesor di sana. Ternyata, pandangannya akan mahasiswa berbeda dengan yang ada di Indonesia. Beliau masuk pertama kali, dan saat memasuki ruangan, belum sempat beliau sampai di kursi dosen, separuh mahasiswa telah mengacungkan tangan untuk bertanya, tentu saja dosen saya tak mampu untuk menjawab semuanya, sehingga terkadang jawaban pertanyaan pun harus dijadikan PR oleh dosen saya sendiri.

Dengan ilustrasi diatas disimpulkan bahwa, bangsa yang maju pun masih tetap dan terus bertanya jika ingin menguasai suatu ilmu apapun. Dan tentu siapapun yang ingin maju tetap harus membudayakan bertanya. Lalu mulai kapankah kita akan bertanya?

Iklan

Tentang Hanif Mahaldi

Mahasiswa di UGM Jogja Jurusan Fisika Mipa, masih terus belajar mencari arti kesuksesan dengan "passion" menulis, bercerita dengan tulisan, atau apapun yang benar-benar bisa menyenangkan dengan tulisan.
Pos ini dipublikasikan di Motivasi Analisis dan tag , , . Tandai permalink.

14 Balasan ke Belajar itu Bertanya

  1. dian berkata:

    Saya suka banyak nanya-nanya, tapi kadang orang jadi malas jawab, gimana dong? πŸ˜€

  2. Fir'aun NgebLoG berkata:

    Bertanya itu emang bagus gan… tapi klo kebanyakan nanya jadi kyk orang bego dech πŸ˜€ wkwkwk…

  3. darahbiroe berkata:

    malu bertanya
    nyasar dijalan
    hahhaha
    πŸ˜€

  4. pendarbintang berkata:

    Malu bertanya sesat di jalan, kebanyakan tanya menyebalkan, he he he he

  5. Satria Yudha berkata:

    malu bertanya sesat di jalan πŸ˜€

  6. Usup Supriyadi berkata:

    kalau menurut liturgi keislaman, banyak bernyata itu adalah faktor penyebab terkutuknya Bani Israel; Bangsa Yahudi. Dalam hal keagamaan kita lebih diharuskan belajar dengan banyak mendengar. Tapi dalam kasus ilmu pengetahuan dunia, maka bertanya dan kritis itu sangat diperlukan…

    • Hanif Mahaldi berkata:

      wah, lebih lugas dan komplit, benar, sayangnya saya tidak mengkhususkan pada masalah agama, dan sebagai awam, tetaplah bertanya, walau dalam hal agama, sehingga yang memberikan ilmu benar2 jelas memberikan ilmunya. tidak setengah2, dan membuat ambigu.

  7. TuSuda berkata:

    Perlu terus bertanya kepada diri sendiri dulu, apa yang belum diketahui, kemudian mencari sumber informasi yang dipercaya ini..
    Salam dari Kendari.. πŸ™‚

  8. Agus Siswoyo berkata:

    Saya setuju banget mas. Malahan ada pepatah yang mengatakan, “Human stop learning when he stop asking”. Bertanya adalah tindakan nyata sebuah proses pembelajaran.

  9. bundadontworry berkata:

    ketika kita bertanya ttg sesuatu , kita perlu mencari jawaban, tentunya dr sumber yang benar2 bisa menjawab pertanyaan itu.
    sebaiknya sebelum bertanya , memang kita tanya dulu diri sendiri.
    salam

  10. masyhury berkata:

    Bertanya dan mendengarkan.. biar lebih komplit..
    Kalo nanyak mulu tapi gk didengar ya podo wae..!!
    salam kenal..

    • Hanif Mahaldi berkata:

      hehe, benar2, yang saya maksudkan disini, adalah dimana disediakan waktu untuk bertanya, tidak dimaksimalkan dengan baik. sehingga terasa percuma saja, kita banyak informasi tapi tidak bisa didiskusikan. hehe.

  11. citromduro berkata:

    dengan bertanya maka kita akan semakin banyak pendapat tambahan pengetahuan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s