Inspiring Person : Andy F.Noya

Siapa yang tidak mengenal tokoh kita disamping ini? Kali ini, saya mendapatkan ide untuk membuat kategori tulisan berjudul, ISPIRING PERSON. Dimana saya sendiri akan memberikan opini tentang kesuksesan para tokoh kita, dan mengumpulkan beberapa tokoh sukses lainnya yang bisa menjadi panutan inspirasi bagi kita semua.

Andy F.Noya. Lebih kita kenal dengan bung Andy dalam acara talkshownya di sebuah TV swasta Metro TV setiap hari jumat malam jam 7 malam WIB. Beliau mengangkat masalah-masalah sosial yang ada di sekitar kita, masalah yang tidak pernah menjadi perhatian kita, yang dapat terus menginspirasi kehidupan, itulah acara yang senantiasa dihadirkan setiap tayangnya. Jika ingin mengetahui siapa sebenarnya Andy F.Noya ini, bisa di klik link yang sudah saya berikan, karena anda akan langsung menuju website dengan segala macam yang ingin anda ketahui tentang beliau dan acara talkshow yang dibicarakannya.

Apa yang sebenarnya menarik yang ingin saya bahas disini? Mungkin anda belum mengetahui, bahwa kesuksesan beliau ini, tak lepas dari mimpinya dan cita-citanya dimasa lalu. Loh? bukannya itu biasa? Oh, tentu tidak. Ini luar biasa. Saya berikan ilustrasi sederhanya. Apa sih yang akan anak TK-SD katakan tentang cita-cita mereka? Mau jadi apa anak-anak? aku-aku, mau jadi dokter, kata anak lainnya. aku-aku, mau jadi insinyur, kata anak yang lainnya lagi. Pernahkah terbesit dalam pikiran kita bahwa itu semua hanya lontaran keinginan semata? Kemudian dimasa depan, dalam perjalan hidup kita pun cita-cita dan mimpi itu berubah sesuai dengan keadaan yang kita jalani, mencari bentuk ideal yang terjadi dalam kehidupan kita, terbentur dengan norma, ekonomi, sosial, cemoohan, dan segala bentuk benturan yang tak jarang kita menyaksikan banyak orang yang membuang mimpinya jauh di dalam hatinya. Lalu bagaimana sebenarnya dengan Bung Andy ini?

Saya temui rahasia beliau akhirnya. Iseng beli buku berjudul, “Your Job Is Not Your Career!” karya Rene Suhardono, di bagian terakhir buku tersebut diceritakan tentang bagaimana bung Andy menapaki langkah kesuksesannya. Beliau sukses tepat sejak beliau mencanangkan mimpi dan cita-citanya sejak SD. Yah, benar, beliau saat ini itu berkat cita-cita beliau yang beliau jaga dan beliau usahakan sejak SD. Disaat anak-anak seumuran itu, telah mengalami berpuluh-puluh kali mengganti cita-cita mereka, namun tidak dengan bung Andy. Hal ini semakin dikuatkan oleh semangat beliau dalam setiap pelajaran bahasa Indonesia, mendapatkan nilai tinggi untuk mata pelajaran mengarang, sampai himbauan seorang gurunya yang menyemangatinya bahwa dirinya akan sukses jika memilih profesi sebagai wartawan. Dan apa yang dapat kita lihat sekarang?

Nah, berkaitan dengan artikel saya sebelum ini, beliau memiliki perjalanan yang cukup sulit untuk meraih gelar wartwan yang disandingnya sebelum kita kenal dalam K!ckAndy. Beliau setamat SD dimasukkan oleh orang tua ke sekolah tekhnik. Analisis saya bahwa ini salah satu bentuk benturan yang dapat mengubah jalur cita-cita yang telah kita rencanakan. Kemudian beliau tetap tidak mengindahkan dan menolak untuk mendapatkan beasiswa IKIP Padang saat itu, dan melanjutkan sendiri ke Sekolah Tinggi Publistik Jakarta namun tanpa pembiayaan orang tua. Analisis kedua saya, ini termasuk benturan yang ketiga, setelah menolak beasiswa (siapa sih yang mau menolak? untuk sebagian besar orang tak pernah mau menolak hal ini) sebagai benturan kedua. Lalu bagaimana perjalan sekolah tinggi beliau? ternyata beliau Drop Out dikarenakan tidak memiliki biaya untuk melanjutkan sekolah lagi. Ternyata benturan keempat menurut cerita beliau dapat dikatakan titik puncak yang saya pahami. Akhirnya beliau mendapatkan langkah demi langkah kesuksesannya.

Setelah Drop Out, beliau diterima menjadi reporter disebuah koran bisnis, kemudian terus melangkah menjadi redaktur, korlip, redaktur pelaksana, hingga redaksi pada kedudukan tertinggi. Inilah mengapa saya sebut beliau telah jauh merencanakan kesuksesannya dan siap menerima kesuksesannya dengan terus memperjuangkannya, walau benturan-benturan tetap menghadapinya. Tapi, beliau tidak “nyaman” begitu saja, tapi beliau memiliki tekad untuk mencapai kebahagiaan dengan berbagi. Akhirnya program K!ckAndy yang dapat kita saksikan inilah yang menjadi puncak kesuksesan beliau menekuni bidang profesi yang dia inginkan, dia cintai, sejak masih duduk di bangku sekolah dasar.

Dapat kita tarik kesimpulan dari apa yang menjadi kekuatan sukses beliau. Yaitu, Passion rasa puas akan menekuni bidang yang ditekuninya mengalahkan rasa mencari uang dalam dunia pekerjaan, memberikan kontribusi besar terhadap dirinya dan orang-orang disekitarnya, bahkan sampai seluruh masyarakat yang menyaksikan beliau, hal ini bukan tidak mungkin kita dapat melakukannya, dengan terus mencari ke lubuk hati kita, “apa sih yang sebenarnya ingin saya raih, saya capai, bidang yang benar-benar membuat saya menjadi semangat untuk terus melakukannya,” semua hal itu perlu kita pikirkan kembali. Demikian kisah ispiratif dari tokoh inspiratif kita. Semoga Bermanfaat.

Iklan
Dipublikasi di Inspiring Person | Tag , , , | 13 Komentar

Apa Tujuan Hidupmu?

Mau kemana kita? Seorang kawan bertanya kepada temannya yang sedang menyupir mobil. Coba lihat di GPS, kita akan ke mall. Kemudian seorang teman yang bertanya pun melihat GPS, dan paham kemana jalur yang harus mereka lalui. Dan mereka pun melanjutkan ke pembicaraan yang lain.

Bagaimana dengan kita? Saya, anda? Apakah sudah memiliki “GPS” dalam kehidupan ini? Apakah sudah jelas mana yang perlu anda tuju dalam kehidupan ini? Pekerjaan, karier? Itulah mengapa setiap dari kita terkadang tidak menyadari betapa pentingnya memiliki Blueprint atau naskah kehidupan yang jelas sebagai rencana meraih masa depan yang lebih baik. Banyak dari kita, termasuk saya hingga saat ini beranggapan bahwa cukuplah berada di awang-awang, atau sambil lalu sebuah tujuan hidup itu direncanakan. Yah, kalau itu saya analogikan seperti ini, seorang nenek yang akan menyebrang jalan, paham dan hafal kapankah dia harus menyebrang dengan atau tanpa dibantu seorangpun walaupun dirinya sudah sangat renta untuk menempuh tujuan diseberang jalan. Dirinya tidak lagi membutuhkan peta, GPS, karena dirinya sudah hafal, indrawinya sudah matang mengenali lokasi yang setiap harinya disebrangi. Sehingga dapat mencapai tujuan dengan sukses. Lalu bagaimana dengan kita? Yang belum benar-benar memiliki kesuksesan apakah masih membutuhkan “GPS” atau cukup hanya di awang-awang dan di hapalkan?

Semakin cepat semakin baik. Kalimat tersebut sering kita dengarkan, saat diri ini mengalami kebimbangan dalam penentuan tujuan dari hidup. Semakin cepat masuk dunia bisnis semakin baik, karena lebih banyak pengalamannya, tapi benarkah lebih sukses daripada yang terjun ke hal yang sama belakangan? Semakin cepat memilih jurusan kuliah disaat pembukaan pendaftaran perguruan tinggi semakin banyak peluang terpilih karena masih banyak “kursi” kosong, tapi benarkah lebih sukses menempuh kuliah dibandingkan dengan yang mendaftar diakhir-akhir? Dilematis memang, namun tidaklah perlu diambil pusing. Yang menjadi penting adalah bagaimana diri kita sendiri mencoba untuk tetap menggali kemampuan dari minat dan bakat kita sehingga dalam merencanakan tujuan kehidupan semakin mudah karena kita siap menangkap kesuksesan itu sendiri.

Passion. Kata dalam bahasa inggris ini lebih tepat diartikan dalam bahasa Indonesia yang berarti, “apa yang kita minati, inginkan, dan kita lakukan namun kita tidak begitu mahir di dalamnya, dan kita mengerjakan hal tersebut karena rasa tenang dan kepuasan batin.” Sebenarnya itu pengartian saya sendiri. Saya beri contoh, seorang mahasiswa yang baru masuk kuliah, dia berada di jurusan yang di pilihkan orang tuanya, walau tidak secara langsung, akhirnya mahasiswa tekhnik ini memasuki jenjang kuliahnya. Dalam perjalanan kuliah, ternyata banyak sekali senior angkatan yang menawarkan berbagai macam ekstrakurikuler yang tidak berkaitan secara langsung dengan program pendidikan di bangku kuliah. Dengan memasang jargon kepada adik-adik mahasiswa barunya, mereka mengatakan, “Ini sebagai networking, mengenal sosial, komunitas, yang mungkin bisa menjadi nilai tambah kalian dalam menghadapi kuliah dan dunia kerja nanti.” Akhirnya anak baru tadi memilih ekstrakurikuler desain digital.

Seiring berjalannya waktu, ternyata dirinya merasa tidak nyaman dengan berada di jurusan tekhnik tersebut. Ada perasaan enggan untuk melanjutkan kuliah. Dirinya telah merasa nyaman mempelajari desain digital. Dia tidak mahir dengan keduanya, baik dibidang tekhnik maupun desain digital. Namun ada “passion” di sana, di bidang desain digital yang dipelajarinya di ekstrakurikuler.  Sehingga semangatnya dalam menekuni bidang tersebut tetap ada. Tahun berganti, mahasiswa itu pun semakin menuju puncak kuliah. Harus segera lulus, dan meneruskan ke dunia pekerjaan. Lalu, mahasiswa itu lulus dengan nilai yang pas-pasan namun dengan bekal desain digital yang siap untuk dijadikan sebuah karya dalam perjalanan hidupnya.

Mengetahui hal tersebut, orang tua marah, tidak terima, merasa sia-sia menyekolahkan anak mereka dengan keadaan seperti itu. Menjalani kuliah tidak dengan sepenuh hati, lulus dengan nilai pas-pasan, bahkan saat mencari pekerjaan pun sang anak tidak mencari pekerjaan yang memiliki hubungan dengan apa yang dipelajarinya di kuliah. Dirinya tetap nyaman dan puas mempelajari desain digital, sehingga lebih memilih memasuki perusahaan yang menerimanya dengan kemampuan desain digital. Walaupun orang tuanya merendahkannya setelah mendapatkan pekerjaannya itu, namun ia bertekad terus berjuang hidup dijalan apa yang digemarinya itu.

Tahun berganti, resesi ekonomi global pun mengalami perubahan drastis, sehingga sang anak harus mengalami PHK. Orang tua pun semakin merendahkannya, karena ia menjalankan pekerjaannya dengan, “passion” maka walaupun PHK menghampirinya, dirumah ia tak pernah merasa menganggur, karya-karya desain digital terus dihasilkannya. Dan tak butuh waktu lama karya-karyanya dia kirimkan ke majalah-majalah desain digital. Apresiasi cukup memuaskan, dirinya tak merasa seperti orang yang habis diPHK, karyanya dia sebarkan ke outlet-outlet pakaian, kaos, dan mencoba menjalin kerja sama bisnis, menjual karyanya lewat internet, dan berbagai macam usaha dilakoninya guna dapat menyambung kehidupannya.

Potret diatas yang ingin saya simpulkan. Apa yang menjadi tujuan hidup anda bukanlah perspektif orang lain. Siapapun itu. Termasuk orang tua anda. Saya sendiri berusaha meyakinkan orang tua apa yang saya pilih dalam kehidupan saya adalah apa yang bisa saya banggakan dimasa depan. Dengan demikian saya bisa merasa enjoy dalam menjalaninya, kuat dengan terpaan yang menggoyahkan pilihan hidup saya, dan tetap berjuang melalui proses yang cukup untuk dapat meraih apa yang saya inginkan. Dengan menggaris bawahi “passion” tetap saya jalankan, jadi apa tujuan hidup anda? cobalah untuk masuk ke dalam diri, merenung, apakah benar ini yang saya inginkan? terlepas dari beban keuangan, jabatan, popularitas, yang anda miliki sekarang. Memang tak mudah, tapi bukan mustahil.

Dipublikasi di Motivasi Analisis | Tag , , | 10 Komentar

Belajar itu Bertanya

Bertanya? Sudah berapa lamakah anda tidak bertanya? Semakin dewasa rasa keingintahuan itu lebih sering membuat kita memilih untuk mencari sendiri ilmu itu dari buku, seminar, internet dan sebagainya, tapi tanpa bertanya? Apakah bertanya sudah mengurangi porsi bertanya itu sendiri?

Dalam motivasi analisis kali ini saya akan membahas bahwasanya bertanya adalah hal lumrah yang harus dibudayakan kembali dengan lebih bijaksana. Terkadang permasalah muncul adalah feedback atau timbal balik dari apa yang kita tanyakan. Seorang siswa, dengan sangat ingin tahunya bertanya kepada gurunya, dengan ragu namun pasti dirinya bertanya apa yang ingin ditanyakan, namun pertanyaan itu dianggap konyol oleh guru dan teman-temannya. Sehingga dirinya ditertawakan. Inilah yang saya maksud dengan bijaknya menimpali pertanyaan seseorang. Karena hal tersebut dapat mematikan rasa ingin tahu bahkan mengurung perkembangan kreativitas seseorang. Lalu, jika hal itu sudah umum dilakukan, bagaimana? Apakah pertanyaan tak perlu lagi?

Pengalaman menarik ingin saya bagikan disini. Masuk gerbang perkuliahan dan dunianya, adalah sarana yang mewajibkan setidaknya mahasiswa untuk aktif bertanya. Namun, ternyata dosen tidak selalu sabar menghadapi pertanyaan itu. Bisa dikatakan bahwa, bertanya itu perlu yang memiliki nilai bobot tersendiri. Itulah alasan mengapa di bangku kuliah pun, pertanyaan jarang sekali dilontarkan. Tapi berbeda dengan teman saya yang satu ini. Dirinya adalah orang yang sering tampil bertanya di dalam kelas. Walaupun teman-teman dan saya pun tahu jika pertanyaan yang diajukannya adalah pertanyaan yang dasar, bisa dicari dibuku, dan terkesan konyol, namun dirinya tetap cuek dan terus memberikan pertanyaan. Setiap semester dia melakukan hal yang sama. Saya pun sadar akan dampak yang diberikannya untuk saya sendiri secara tidak langsung. Dari sekian banyak pertanyaan itu pun, ternyata banyak yang saya sendiri belum tentu sanggup menjawabnya jika saya berada di posisi dosen yang ditanya. Ini bukti bahwasanya bertanya adalah belajar dan belajar adalah bertanya menjadi sinkronisasi yang mutlak adanya.

Layaknya kehidupan ini, segan bertanya adalah tersesat. Ini perlu latihan tentunya, setidaknya melatih mental dengan cemoohan saat pertanyaan itu kita lontarkan pada seseorang. Sehingga kita sendiri menjadi lebih matang dalam menguasai sebuah ilmu. Bertanya juga dianggap eksklusif di kalangan bangsa barat hingga saat ini. Karena bagi mereka bertanya itu hal biasa namun mendapat tanggapan yang mereka inginkan atau jawaban yang memuaskan dari pertanyaan itu adalah hal yang mahal. Budaya ini yang seharusnya dan sepatutnya kita tiru. Seorang dosen bercerita tentang pengalamannya mengambil S3 di Eropa. Beliau sempat mendapatkan kesempatan menjadi asisten profesor di sana. Ternyata, pandangannya akan mahasiswa berbeda dengan yang ada di Indonesia. Beliau masuk pertama kali, dan saat memasuki ruangan, belum sempat beliau sampai di kursi dosen, separuh mahasiswa telah mengacungkan tangan untuk bertanya, tentu saja dosen saya tak mampu untuk menjawab semuanya, sehingga terkadang jawaban pertanyaan pun harus dijadikan PR oleh dosen saya sendiri.

Dengan ilustrasi diatas disimpulkan bahwa, bangsa yang maju pun masih tetap dan terus bertanya jika ingin menguasai suatu ilmu apapun. Dan tentu siapapun yang ingin maju tetap harus membudayakan bertanya. Lalu mulai kapankah kita akan bertanya?

Dipublikasi di Motivasi Analisis | Tag , , | 14 Komentar

Perbanyak “Skill” yuk…

Perbanyak Skill yuk… itu ajakan yang ingin saya sampaikan. Sekedar berbagi apa yang saja pelajari dari berbagai buku, bahwa manusia itu heterogen di dalam hidupnya. Khususnya manusia Indonesia. Maka dari itu lah yang menjadikannya unik seuniknya karena manusia Indonesia tidak pernah benar-benar paham apa yang mereka geluti saat ini bukan yang mereka inginkan. (secara mendalam dari minat dan bakat). loh?

Sebagai ilustrasi diatas adalah gambar sebuah buku yang mengajak dan mengajarkan life skill dimana kehidupan perlu untuk dipelajari tekhnik-tekhnik yang bermanfaat untuk menunjang sebuah pekerjaan dan karier mereka. Eh? pekerjaan dan karier adalah dua hal yang berbeda. Mungkin akan saya jelaskan lain waktu. Perlu diingat juga, saya tidak akan mengajarkan materi yang ada di dalam buku tersebut, karena ini murni motivasi analisis dari saya sendiri.

Kali ini, dilema dalam kehidupan profesional mengganggu saya. Kenapa? Lebaran kemaren, cukup membuat saya gelisah. Setelah tidak bisa berkumpul bersama orang tua di kampung halaman, saya sendiri harus mewakili kelurga dalam silaturahmi keluarga besar orang tua di kota Solo. Cukup gelisah. Kenapa? Mudah saja, bagi saya yang menginjak 2 tahun kuliah, bukanlah hal yang mudah untuk menjelaskan arah pekerjaan yang bisa saya tempuh nanti setelah lulus kuliah. Maklum, jurusan yang saya ambil tidaklah sepopuler yang ada saat ini. Lalu seorang saudara bapak pun bertanya, “Hanif, nanti kalau lulus, arah pekerjaan yang diambil kearah mana ya? Guru? Atau Dosen?” sebuah pertanyaan yang skeptis, yah, saya maklumi karena mereka tidaklah menjalani apa yang saja jalani.

Pertanyaan itu pun saya jelaskan dengan rincian yang cukup sederhana. Setidaknya, mau jadi apa kita nanti, itu adalah perjalanan waktu. Maka dari itu, pentingnya menambah “ilmu atau skill” guna menunjang pekerjaan dan karier adalah keharusan. Jadi cukup saya jawab, “Itu adalah pilihan sempitnya, kalau mau luas, saya pun bisa jadi pengusaha, atau bekerja di industri perminyakan atau pertambangan, tidak ada batasan soal itu bukan? asalkan skill yang saya tempa saat kuliah bermanfaat, bisa saja jadi seorang penulis.” (maaf, itu bukan jawaban sebenarnya, tapi sedikit saya rekayasa yang intinya sama.) Namun, sepertinya mereka tetap memandang sebelah mata soal jawaban yang saya berikan, lalu? Yah, itulah yang membuat saya cemas. Dan kembali membaca buku-buku motivasi soal pengembangan diri, motivasi pekerjaan, dan sebagainya.

Nah, begitulah, sekedar fakta dilapangan, banyak kita temui, seorang lulusan psikologi menjadi manager marketing sebuah perusahaan swasta, atau seorang lulusan sastra inggris menjadi pegawai bank. Itu semua tidak salah bukan? karena manusia Indonesia unik dalam mengambil sikap untuk masa depannya. Walaupun selalu berlandaskan uang sebagai tujuan. Tapi bukan itu yang kita permasalahkan sekarang. Bagaimana mempersiapkan diri untuk bisa survive dalam dunia pekerjaan.

Pertama yang saya pelajari, carilah minat anda. Sebuah buku yang saya baca mengatakan, “minat adalah apa yang anda cintai untuk dilakukan, walaupun anda tidak mahir melakukannya.” Secara cerdas dapat diberikan contoh demikian. Seorang konsultan keuangan sangat tertarik dengan dunia fotografi, lalu dia ingin minatnya tersebut menjadi hobi dan nantinya bisa menjadi penghasilan sampingan yang cukup menjanjikan. Apakah dirinya akan membiarkan saja terus mengurung minat dan bakatnya dalam pekerjaannya sekarang? Itu cukup menyakitkan secara mental saya rasa. Jadi mencoba secara bijak minat barunya tersebut pelan-pelan. Seperti berkenalan dengan seorang fotografer, banyak bertanya seluk beluk fotografi, lalu membeli seperangkat kamera, bereksperimen, dan tentu saja tetap menjalankan pekerjaannya sebagai konsultan keuangan.

Contoh diatas adalah bukti bahwa skill yang kita miliki saat ini masih bisa berkembang kearah yang berbeda dengan yang kita jalani saat ini. Sebagai mahasiswa fisika murni, saya sendiri ingin berprofesi sebagai penulis. Memang sulit menjanjikan kesuksesan di dalamnya. Tapi buah kesuksesan itu dimulai dari langkah-langkah kecil, dengan proses, dan dengan perencanaan. Lalu bagaimana perencaannya? Kalau saya sih, mumpung masih 2 tahun kuliah untuk lulus (semoga tidak molor, amin) berarti masih ada 2 tahun untuk terus mengasah kemampuan menulis. Saya tertarik menulis pada hal-hal motivasi, sehingga tulisan saya bisa bermanfaat bagi diri saya sendiri dan orang lain nantinya.

Lalu bagaimana dengan anda? Saya yakin anda punya minat yang jauh lebih hebat dari saya? Mungkin anda mahasiswa tekhnik yang lebih suka travelling ke alam bebas daripada menekuni bidang anda? Mungkin itu bisa menjadi jalan hidup anda nantinya. Dan yang lainnya. Bagaimana? Tertarik mencari minat dan bakat anda? Tidak ada kata terlambat bagi saya. Jadi bersemangatlah.

Dipublikasi di Motivasi Analisis | Tag , , | 26 Komentar

Ayo Menulis…!

Gambar disamping merupakan gambar yang coba saya buat sendiri. Walau sepertinya agak kekecilan, berdimensi 40 x 40 (pixel). Sehingga kekecilan deh. Langsung ke topik pembicaraan saja.

Menulis adalah kegiatan yang sudah kita kenal sejak lama. Bahkan sejak kita masih di sekolah dasar dulu. Sebagai alat bantu memahami ilmu yang diberikan dan sebagai kemajuan peradaban manusia, menulis tak pernah dipisahkan dari kehidupan kita. Namun menulis pun berkembang. Tidak hanya dalam ranah melalui kertas, namun juga berkembang dalam media komputer.

Semangat menulis cukup berkembang di bumi Indonesia, dengan munculnya media Blog sebagai media ekspresi diri yang ditunjukkan dengan menghasilkan karya tulis, berarti negeri ini semakin melek dengan pentingnya sebuah karya tulis itu sendiri. Dulu, sejak saya SMA kelas 2, saat itu awal saya mengenal blog, sudah jauh dari apa yang bisa dilihat sekarang. Dulu blog masih jarang, kenaikan popularitas pun begitu gampang, apalagi blog yang mengusung topik khusus. Seperti tema blogging itu sendiri, atau tema-tema hobby. Karena kebanyakan blogger lebih memilih membuat blog sebagai diari harian, yaitu memindahkan diari konvensional ke dalam internet. Umur blog seperti itu pun tidak lama, setahun, 2 tahun, terus vakum. Lebih banyak pengguna platform blogspot dulu. Sekarang, sudah banyak ragam pilihan yang bisa digunakan. Lalu, kenapa tidak di manfaatkan saja?

Itulah sekarang saya menggalakkan kembali “Ayo Menulis…!” semakin ekspresif diri dan menambah kemampuan menulis. Dibandingkan harus berada terus menerus di dunia social engine yang kurang banyak membawa manfaat. Setidaknya, gerakan ini harus terus disemangati. Saya cukup salut dengan master-master blogger. Yang telah lama dan tetap konsisten membawa diri mereka ke dalam dunia blogger, banyak pengalaman, dan tak segan berbagi ilmu.

Ayo menulis! selagi bisa menorehkan sejarah dalam dunia internet, selagi bisa menunjukkan pada dunia bahwa kita pun mampu memberikan kontribusi dengan tulisan yang bermanfaat. Dan tentu saja dimulai dari sekarang, dari diri sendiri… Ayo Menulis…

Dipublikasi di Motivasi Blogging | Tag , , | 10 Komentar

Merosotnya Semangat Muda

Semangat muda adalah semangat yang dimiliki oleh pemuda. Biasanya dikategorikan berumur anak SMP-SMA-Mahasiswa. Namun pengkategorikan itu akhirnya meluas hingga manusia berumur 20tahunan, 30tahunan, sebelum mencapai umur 40 tahun. Karena umur 40 tahun sudah dianggap lebih mapan dan siap untuk jenjang pendewasaan.

Semangat muda cenderung merosot. Walau akhirnya banyak dari pemuda yang berhasil melewati masa muda mereka dengan kesuksesan, tak ayal penuh dengan kerja keras. kerja keras secara fisik, pikiran, serta mental. Ini perlu dipahami dengan baik jika semangat itu tidak ingin mengendur bahkan hilang sama sekali. Contoh sederhananya adalah, seseorang yang sedang menempuh jenjang pendidikan kuliahnya, merasa sangat hopeless saat jurusan yang diambilnya teryata jauh dari minat dan bakatnya (desakan orang tua), sehingga semangat untuk bisa berjuang menyelesaikan pendidikan yang diambilnya terasa berat dan sulit.

Analisis sederhana yang saya sajikan adalah menilik dari penggunaan social engine yang ternyata menggerus mental semangat para pemuda (biasanya disebut “alay” atau “lebay”). Entah dari kata baru diatas, kata yang sebenarnya tidak pernah ada di kamus resmi bahasa Indonesia, karena cenderung bertransformasi dengan jaman, kata “gaul” yang terkadang terlalu sarkas sehingga memancing emosi yang berujung pada caci maki. Padahal tidak harus semestinya seperti itu.

Nah, kembali pada merosotnya semangat pemuda ini. Kita ambil Facebook sebagai study kasus ringan ini. Manusia cenderung ekspresif dengan lingkungannya. Sehingga penggunaan facebook yang ditujukan untuk berkomunikasi dengan teman lama, berkembang menjadi media ekspresif yang terlewat ekspresif. Dugaan awal adalah terlalu riskannya kemunduran semangat pada para pemuda. Entah itu karena takut tidak setenar teman facebooknya, sehingga ekspresif diri cenderung berlebihan. Dalam kasus serupa, kurangnya tempat sosial yang bijak. Sehingga menjadikan Facebook sebagai ladang curhat yang semestinya dapat dilakukan diranah sosial, antar teman-teman, yang mana dapat mempererat tali silaturahmi. Bukti-bukti nyatanya bisa dilihat dengan banyaknya Facebooker yang cenderung pesimistis dalam hal penulisan status. Lebih kearah menyerah dengan keadaan hidup lebih dini.

Perlu diperbaiki memang, dengan lebih mengoreksi diri sendiri dan lebih produktif kedepannya. Bukan sekedar berkeluh kesah dalam media-media online yang lebih mengharapkan rasa iba orang lain. Sehingga melemahkan diri sendiri dalam menghadapi hidup. Motivasi itulah yang diperlukan. Sudah banyak media motivasi yang disajikan, bahkan hingga ke dalam Facebook sendiri. Sehingga media tersebut diharapkan dapat digunakan secara bijak, karena hanyalah sebuah media, bukan selamanya menjadi tempat melemahkan diri sendiri. Dengan demikian, analisis ini saya tutup dengan kesimpulan, merosotnya semangat muda lebih diakibatkan modernitas tetap dapat memberikan peluang meraih kesuksesan dari modernitas itu sendiri, lebih kepada penggunaan pribadi masing-masing yang masih perlu diubah.

Dipublikasi di Motivasi Analisis | Tag , , , | 5 Komentar